CARA BERAGAMA YANG BENAR
Oleh : Ust. M. Abduh Tuasikal, ST, MSc
31 Dec 1969


Dalam beragama kita telah diajarkan untuk mengikuti Al Quran dan As Sunnah. lnilah yang jadi pegangan setiap muslim. Hal ini diterangkan dalam beberapa ayat berikut ini

 

 “lkutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin -pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)” (QS. Al Araf : 3).

 

 “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An Nisa’ 61). Ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang diajak beramal dengan Al Qur’an dan As Sunnah, lantas ia menghalanginya, ini merupakan ciri-ciri munafik.

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. An Nisa': 59). Dalam ayat ini dikaitkan dengan iman. ini menunjukkan bahwa ketika terjadi perselisihan pendapat, maka kembalikanlah kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingqa jika ada yang beralih ke selain Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan benar.

 

 “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dan Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” (Qs. Az Zumar. 55). Sebaik-baik yang diturunkan kepada kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah adalah perjelas dari Al Qur’an.

 

 “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 18). Kita sepakati bersanna bahwa Al Quran dan As Sunnah adalah sebaik- baik perkataan dibanding perkataan si fulan.

 

 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.’ (QS. Al Hasyr : 7).

 

Dalam hadits Al 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

 

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnal khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal) Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”1

 

Salah seorang khulafa'ur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata,

 

“Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.”2

 

Kita pun mendapat nasehat dan petunjuk dari empat imam madzhab yang terkemuka yang memerintahkan kita untuk tidak taklid buta. Kita malah diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam. Dan jika ada di antara perkataan para imam yang menyelisihi dalil Al Qur'an dan As Sunnah, maka tinggalkanlah.

 

Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata,

 

 “Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut.”3

 

Imam Malik berkata,

 

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dun benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan As Sunnah, ambillah. Sedangkan jika tidak mencocoki Al Quran dan As Sunnah, maka tinggalkanlah.”4

  

Imam Abu Hunifah dan Imam Asy Syafi’i berkata,

 “Jika hadits itu shahih, itulah pendapatku.”

 

Imam Asy Syafi’i berkata,

  “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”6

  

Imam Ahmad berkata,

  “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.”7

 

Imam Ahmad juga berkata.

 “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.”8

  

Imam Syafi’i memiliki beberapa nasehat yang serupa mengenai hal ini.

Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi'i. Beliau berkata kepadanya,

 “Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullal shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain...!?”9

 

Imam Syafi’i juga berkata,

 “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanah pendapatku -dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan- maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”10

 

 “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.”11

 

 “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”12

 

"Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.”13

 

 “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”14

  

Para imam dengan jelas mengajarkan kita mengikuti dalil. Jika perkataan mereka menyelisihi dalil, peganglah dalil. Jadi kita tidak dibenarkan untuk ta'ashub pada perkataan imam tertentu dan tidak diperbolehkan hanya sekedar taklid buta. Namun bagi orang awam yang tidak bisa menyimpulkan dalil, maka ia punya kewajiban untuk bertanya pada orang yang lebih berilmu atau taklid pada pendapat orang alim yang lebih ia anggap mendekati kebenaran Allah Ta’ala berfirman,

 

 “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya 7).  Jadi tidak selamanya taklid itu tercela. 15

 

  1.R. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini     

   shahih

2. HR. Bukhari no. 3093 dan Muslim no. 1759.

3. I’lamul Muwaqi’in, 2: 211.

4. I'lamul Muwaqi'in, 1: 75.

5. Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah, 1: 39, 41.

6. Majmu’ Al Fatawa, 20: 211.

7. Ibnul jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dar sifat Shalat Nabi hal. 53.

8. Majmu' Al Fatawa, 20: 211-212.

9. Hilyatul Auliya', 9: 107.

10. Al Majmu' SyarhAl Muhadzdzab, 1: 63.

11. Siyar A'laamin Nubala', 10: 35.

12. Hilyatul AuIiya’, 9: 107.

13. Siyar A'laamin Nubala’, 10: 35.

14. I’lamul Muwaqi’in, 2: 282.

15. Demikian nasehat yang pernah penulis peroleh dan guru penulis, Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah dalam Dars kitab Ad Durun Nadhid (karya Asy Syaukani). 


Tags : Aqidah ,Puasa ,Ramadhan ,